Senin, 22 November 2010

AUTISME, PENGALAMAN PRIBADI

GEJALA & TERAPI AUTISME


Penulisan ini berlatar belakang karena pengalaman pribadi. Saya adalah seorang ayah yang mempunyai 5 orang anak, kebetulan yang nomor 1 & 2 adalah laki-laki dan nomor 3,4, dan 5 adalah perempuan. 2 anak laki-laki saya tersebut menderita autism, sedangkan yang perempuan tidak.
Saya menikah tahun 1994, 3 bulan kemudian istri saya hamil dan melahirkan anak pertama di bulan September 1995, dan kurang dari 2 tahun kemudian melahirkan anak ke-2 di bulan Mei 1997. Saat itu autism belum populer atau dikenal di masyarakat, begitupun saya juga tidak tahu autism itu apa?. Ketika anak pertama berumur 1 tahun dia belum bisa berjalan, tapi pikiran saya belum sampai menganggap anak itu ada kelainan perilaku karena banyak seusianya belum bisa jalan tapi kemudian setelah usia 3 tahun normal-normal saja. Anak pertama baru bisa berjalan setelah berusia 1 tahun 6 bulan dan anak ke-2 bisa berjalan setelah usia 1 tahun 2 bulan.
Sampai usia 2 tahun komunikasi anak belum lancar dan perbendaharaan katanya sangat sedikit, tetapi sampai saat itupun saya belum berpikir ke arah bahwa anak itu mempunyai kelainan perilaku, karena orang-orang disekitar sayapun memandang bahwa anak tersebut hanya terlambat bicara dan nanti juga bisa berbicara lancar kata mereka. Usia 3 tahun tidak ada kemajuan berarti, hanya bicara per-kata, kurang jelas dan belum bisa berkomunikasi. Contohnya : belum bisa bertanya tentang sesuatu, jadi hanya bicara 1-2 kata, itupun sesuatu yang memang dia inginkan. Sejak saat itulah saya mulai merasa anak tersebut mempunyai kelainan tetapi masih berharap akan terjadi perubahan 2 tahun kemudian.
Umur 4 tahun kami sekolahkan mereka di TK. Selama 1 tahun mereka dapat mengenal angka 1-20 dan menulis serta mengeja huruf meskipun hanya kata-kata yang tidak mempunyai konsonan mati, seperti bu-ku, ru-sa, ko-ta, bukan seperti la-par, pin-tar, me-sin dsb. Umur 6 tahun sudah bisa membaca kata yang berkonsonan mati tetapi belum bisa berfikir atau mengerti pembicaraan orang sehingga waktu itu gurunya menyarankan untuk mengulang 1 tahun lagi sebelum masuk ke SD, dan kamipun mengikutinya untuk mengulang 1 tahun lagi di TK.
Anak yang pertama masuk SD umur 7 tahun, baru 2 bulan berjalan tetapi dia sudah tidak mau sekolah lagi, dan juga karena sering didalam kelas berbicara sendiri sehingga mengganggu murid lainnya, akhirnya kami putuskan untuk di rumah saja sementara. Setahun kemudian ia mengulang lagi di kelas 1 SD tapi di sekolah berbeda yaitu SDIT. 2 tahun di SDIT dan naik ke kelas 3 meskipun naiknya dibantu oleh guru, dan akhirnya guru menyarankan untuk pindah di sekolah khusus anak autisme, tetapi karena sekolah tersebut mahal bayarnya kami akhirnya menyekolahkannya di SDN yang mau menerima anak kami tersebut. Sampai kelas 6 dan lulus SD anak tersebut nilai raportnya dibantu oleh guru kelas, tetapi nilai UASBN-nya tidak meskipun dengan nilai 12,75 anak tersebut akhirnya lulus SD.
Anak yang kedua masuk SD umur 7 tahun, tetapi dia tidak naik kelas sewaktu dari kelas 2 ke kelas 3. Setahun kemudian naik kelas 3 tetapi saat naik kelas 4 gurunya sudah tidak sanggup lagi dan menyarankan untuk pindah ke sekolah khusus. Akhirnya kami pindahkan dia ke SLB. Baru berjalan 2 bulan, kami disarankan oleh teman untuk pindah sekolah ke SD Negeri yang memang mau menerima anak seperti itu. Dan memang setelah kami lihat di internet ada 3 SD Negeri di Depok yang mau menerima anak autisme, salah satunya adalah SDN 8 Depok Baru Jl. Bango Raya. Di SD tsb dalam 1 kelas mempunyai 20%-30% anak autisme.
Selanjutnya …
Terapi kuda, lumba-lumba, totok, bekam, acupuncture, gelombang simulasi otak, dll

Tidak ada komentar:

Posting Komentar